Post Page Advertisement [Top]

Artikel

Dibalik Nama Besar Albert Einstein: Dari Politik, Asmara, hingga Matematika

Fisikawan populer, Albert Einstein, memiliki rekam jejak berkaitan dengan dunia politik. Karir politiknya meredup memang. Tak cemerlang seperti Benjamin Franklin, fisikawan yang sempat menjadi presiden Amerika Serikat.


Kegiatan politik Einstein pertama terjadi selama Perang Dunia I, ketika ia menjadi profesor di Berlin. Merasa muak dengan apa yang ia pandang sebagai “pengorbanan nyawa manusia yang sia-sia”, Einstein terlibat demonstrasi anti perang. Anjuran pembangkangan sipil dan dorongan untuk menolak wajib militer yang ia serukan membuatnya tak disukai para koleganya. Setelah perang, ia memusatkan upayanya untuk rekonsiliasi dan perbaikan hubungan internasional. Upaya itu juga tak membuatnya populer, dan karena kegiatan politiknya membuat ia sukar mengunjungi Amerika Serikat, bahkan untuk memberi kuliah.

Perhatian Einstein yang tak boleh luput dari perhatian adalah Zionisme. Walau ia keturunan Yahudi, Einstein menolak gagasan Tuhan dalam Alkitab. Meski demikian, ia perlahan-lahan dekat dengan komunitas Yahudi dan terang-terangan mendukung Zionisme karena merasakan anti Semitisme sebelum dan selama Perang Dunia I. Akibat dukungan ini, teori-teori Einstein diserang, bahkan ada gerakan anti Einstein yang didirikan. Ada juga orang yang menghasut untuk membunuh Einstein. Tapi Einstein tak peduli dengan semua ini.

Ketika Hitler berkuasa di Jerman, Einstein sedang berada di Amerika Serikat. Ia menyatakan tak akan pulang ke Jerman. Militer Nazi sempat mengobrak-abrik rumahnya di Jerman dan menguras isi rekening banknya. Menghadapi ancaman Nazi, Einstein mengusulkan supaya Amerika Serikat membuat bom nuklir sendiri karena takut para ilmuwan Jerman bakal membuat bom nuklir. Tapi sebelum bom nuklir diledakkan pun dia sudah memperingatkan secara terbuka mengenai bahaya perang nuklir dan menggagas pengendalian persenjataan nuklir internasional.

Karir politik Einstein memang meredup. Tetapi dukungan terang-terangannya terhadap Zionisme diakui pada tahun 1952, ketika ia ditawari jabatan presiden Negara Israel. Einstein menolak dan mengatakan ia pikir ia terlalu naif untuk politik. Einstein pun kemudian menyatakan, “Rumus lebih penting bagi saya, karena politik adalah untuk masa kini, tapi rumus adalah untuk selamanya.” Bisa dibayangkan bagaimana sejarah tertulis jika Einstein menerima jabatan presiden Negara Israel.

Petualangan asmara Albert Einstein tak kalah seru dengan petualangan sains dan politiknya. Einstein, fisikawan yang memiliki empat kewarganegaraan (Swiss, Jerman, Austria, dan Amerika Serikat) ini pernah mengalami masa-masa sangat mesra dengan Marie Winteler. Einstein jatuh cinta kepada Marie Winteler pada paruh akhir tahun 1895. Sejak beberapa bulan sebelumnya, Einstein telah tinggal di rumah keluarga Winteler. Jost Winteler, yang merupakan bapak Marie, adalah bapak angkat Einstein. Einstein tinggal di rumah mereka ketika ia menjadi mahasiswa di Aarau.

Usia mereka terpaut dua tahun, Marie lebih tua daripada Einstein. Tetapi kisah asmara mereka ini mendapat restu penuh dari ibu Einstein, Pauline Koch, yang ketika menikah dengan bapak Einstein berusia 18 tahun. Sayang kemesraan Einstein dan cinta pertamanya tak berlangsung lama, mereka malah tak pernah sampai pada jenjang pernikahan. Einstein memutuskan Marie melalui surat yang ia ibu Marie. Tak hanya Marie yang kecewa, tetapi juga ibu Einstein. Bahkan kekecewaan ibu Einstein sulit hilang sampai beberapa tahun kemudian. Tetapi hubungan keluarga Einstein dengan keluarga Winteler, tak berhenti. Adik Einstein, Maria “Maja” Einstein, akhirnya menikah dengan Paul Winteler, saudara kandung Marie.

Putus dari Marie, Einstein jatuh ke pelukan Mileva Marić. Mileva adalah anak pertama sekaligus kesayangan seorang petani asal Serbia. Ayahnya mendukung penuh hasrat putrinya agar bisa menjadi fisikawan. Ayah Mileva ingin agar Mileva bisa meruntuhkan dominasi laki-laki di dunia fisika. Usia Mileva tiga tahun lebih tua daripada Einstein. Tapi di Politeknik Zurich, mereka sekelas. Mileva adalah satu-satunya perempuan di kelas Einstein.

Mileva merupakan gadis yang cerdas, kecil, tapi tak tampak cantik. Kisah cinta mereka mendapat penolakan keras dari ibu Einstein, yang berkali-kali mengganggu perjalanan asmara mereka. Einstein menikahi Mileva setelah Mileva melahirkan putri dari hasil bercinta dengan Einstein. Mereka bercinta dalam liburan di Danau Como, Mei 1901. Sayang, putri mereka dari hasil bercinta sebelum menikah yang diberi nama Lieserl, menjadi sosok misterius. Tak ada satupun orang yang bisa melacak keberadaan Lieserl dan banyak spekulasi beredar mengenai hal ini dengan dukungan data parsial.

Mileva adalah pendamping Einstein dari bukan siapa-siapa sampai menjadi orang penting dalam revolusi fisika. Ia mengalami masa-masa ketika Einstein sangat sulit mencari pekerjaan dan mendapat penghasilan untuk memenuhi biaya hidup mereka. Sampai pada akhirnya Einstein menerbitkan makalah revolusioner yang berkaitan dengan Relativitas Khusus, mereka masih bersama. Selain Lieserl, buah hati mereka adalah, Hans Albert dan Eduard. Hans kemudian menjadi profesor teknik hidrolik di Berkeley, Amerika Serikat. Sedangkan Eduard akhirnya meninggal pada usia dua puluhan setelah kalah melawan skizofernia.

Kemesraan Einstein dan Mileva menemui tanda-tanda keretakan sejak 1914. Pada tahun tersebut, keduanya mulai “pisah ranjang”. Michele Angelo Besso dan Heinrich Zangger, sahabat karib Einstein berusaha keras untuk menahan mereka agar tak berpisah. Sayang usaha mereka sia-sia setelah Einstein dan Mileva resmi bercerai pada 1919. Meski telah bercerai, tetapi Einstein masih memberikan uangnya pada Mileva, termasuk uang dari hadiah nobel yang ia dapatkan.

Sejak “pisah ranjang” dengan Mileva, Einstein tinggal dengan Elsa. Elsa adalah saudara sepupu Einstein. Sebelum menikah dengan Einstein, Elsa merupakan istri dari pedagang tekstil, Max Löwenthal. Dari pernikahan pertama, Elsa memiliki dua buah hati, Margot dan Ilse. Margot kemudian menjadi seniman dan menulis buku tentang Einstein. Ilse yang sempat berkecimpung di dunia fisika juga menulis buku tentang Einstein. Elsa dan Löwenthal bercerai pada 1908 dan menikah dengan Einstein, pernikahan kedua bagi masing-masing pihak, pada 1919.

Pernikahan kedua Einstein berbeda dengan yang pertama. Pernikahan tersebut bukan karena cinta dan berahi. Meski sempat tinggal 4,5 tahun sebelum resmi menikah, tetapi mereka tidur pada ranjang yang berbeda. Hal-hal yang tak diharapkan seperti pernah menimpa Einstein dan Mileva pun tak terjadi. Elsa juga berbeda dengan Mileva. Mileva yang memiliki kecerdasan di bidang fisika, bisa menjadi kolega ilmiah Einstein, sementara Elsa hanya berbakat pada hitungan matematika untuk rumah tangga. Jadi tak bisa juga disebut karena alasan intelektual. Elsa yang merupakan istri kedua dan pacar ketiga Einstein akhirnya menjadi orang yang berada di sisi Einstein sampai akhir hidupnya.

Ada satu cerita tentang Albert Einstein yang kabarnya tak lulus dalam ujian matematika. Cerita tersebut seringkali disertai dengan pernyataan, “Seperti diketahui semua orang,” seolah telah menjadi hal yang benar-benar terjadi. Berita tersebut dicantumkan dalam banyak artikel yang terdapat buku dan media massa serta terus menerus diulang-ulang. Satu artikel menyatakannya, lalu artikel lain mencontek karena beritanya menarik, dan akhirnya semua orang percaya bahwa apapun yang muncul dalam artikel berkali-kali pasti benar.

Berita yang menyatakan Einstein tak lulus ujian matematika biasanya dirancang untuk meningkatkan kepercayaan diri murid-murid yang kurang cakap dalam Matematika tetapi memiliki minat terhadap fisika. Upaya untuk meningkatkan kepercayaan diri orang yang memiliki kemauan keras tanpa memiliki modal kemampuan bagus adalah hal yang baik, tetapi jika dilakukan dengan kebohongan, apakah masih bagus? Alih-alih merangsang kepercayaan diri malah bisa membuat mereka yang kurang cakap dengan matematika cenderung tak menganggap matematika hal yang penting bagi fisika dan kemudian mengabaikan matematika.

Einstein, meski masa balitanya bermasalah karena lambat bicara, tak memiliki masalah dengan matematika. Einstein tak pernah gagal dalam matematika, bahkan ia sudah menguasai kalkulus diferensial dan integral sebelum berusia lima belas tahun. Selama di sekolah, meskipun nakal, ia memiliki prestasi kognitif yang mengagumkan. Ia mendapat nilai yang bagus dalam setiap mata pelajaran dan sempat beberapa kali mendapat peringkat pertama. Bahkan dalam pelajaran bahasa, yang paling bermasalah dan kurang dikuasainya, ia masih bisa mendapat nilai yang bagus yang tak “menodai” rapornya.

Dalam matematika, kemampuan Einstein jauh melampaui persyaratan sekolah. Ia sudah biasa memecahkan permasalahan matematika sebelum berusia dua belas tahun. Dukungan orangtua yang membelikan buku-buku Matematika turut membantu Einstein menguasai pelajaran yang tetap ia pelajari meski sedang libur sekolah ini. Ia tak hanya mempelajarai pembuktian-pembuktian dalam buku tersebut tetapi juga memecahkan teori-teori baru dengan berusaha membuktikannya sendiri. Jakob, paman Einstein dari pihak bapak yang merupakan seorang insyinyur, turut membimbing Einstein dalam matematika.

Max Talmud, teman Einstein yang usianya 11 tahun lebih tua dari Einstein dan menempuh kuliah kedokteran, pernah memberikan buku pelajaran geometri dua tahun sebelum topik tersebut di pelajari di sekolah. Saat itu Einstein berusia 10 tahun dan Talmud 21 tahun. Dengan tekun Einstein mempelajari buku tersebut. Ia mencurahkan waktu yang lebih tinggi pada matematika dan dengan segera kegeniusan matematika Einstein terbang tinggi melampaui kemampuan Max Talmud.

Mungkin mereka yang terlanjur meyakini berita bahwa Einstein tak lulus ujian matematika, bisa memanfaatkan kenyataan bahwa Einstein mengakhiri setahun bersekolah di Aarau, Swiss, dengan hanya menempati peringkat kedua, bukan pertama. Saat ujian matematika, ia membuat kesalahan dengan menyebut bilangan imajiner, padahal yang dimaksud adalah bilangan irasional. Meski dalam ujian tersebut, nilai matematika Einstein tetap tinggi.

Bottom Ad [Post Page]